Selasa, 19 April 2011

PERLUNYA BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR DAN SEKOLAH MENENGAH

A. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar 
          Sekolah dasar bertanggung jawab memberikan pengalaman-pengalaman dasar kepada anak,yaitu kemampuan dan kecakapan membaca,menulis dan berhitung,pengetahuan umum serta perkembangan kepribadian,yaitu sikap terbuka terhadap orang lain,penuh inisiatif,kreatifitas,dan kepemimpinan,ketrampilan serta sikap bertanggung jawab guru sekolah dasar memegang peranan dan memikul tanggung jawab untuk memahami anak dan membantu perkembangan social pribadi anak.
          "Bimbingan itu sendiri dapat diartikan suatu bagian integral dalam keseluruhan program pendidikan yang mempunyai fungsi positif,bukan hanya suatu kekuatan kolektif". Proses yang terpenting dalam pentingnya bimbingan adalah proses penemuan diri sendiri. Hal tersebut akan membantu anak mengadakan penyesuaian terhadap situasi baru,mengembangkan kemampuan anak untuk memahami diri sendiri dan meerapkannya dalam situasi mendatang. Bimbingan bukan lagi suatu tindakan yang bersifat hanya mengatasi setiap krisis yang dihadapi oleh anak,tetapi juga merupakan suatu pemikiran tentang perkembangan anak sebagai pribadi dengan segala kebutuhan,minat dan kemampuan yang harus berkembang.

1. tindakan preventif di sekolah dasar
Tuntutan untuk mengadakan identifikasi secara awal diakui kebenarannya oleh para ahli bimbingan karena:
a. kepribadian anak masih luwes,belum menemukan banyak masalh hidup,mudah terbentuk dan masih akan banyak mengalami perkembangan.
b. orang tua murid sering berhubungan dengan guru dan mudah dibentuk hubungan tersebut,orang tua juga aktif pendidikan anaknya disekolah.
c. masa depan anak masih terbuka sehingga dapat belajar mengenali diri sendiri dan dapat menghadapi suatu masalah dikemudian hari.
Bimbingan tidak hanya pada anak yang bermasalah melai8nkan pandangan bimbingan dewasa ini yaitu menyediakan suasana atau situasi perkembangan yang baik,sehingga setiap anak di sekolah dapat terdorong semangat blejarnya dan dapat mengembangkan pribadinya sebik mungkin dan terhindar dari praktik-praktik yang merusak perkembangan anak itu sendiri.

2. kesiapan disekolah dasar
Konsep psikologi belajar mengenai kesiapan belajar menunjukan bahwa hambatan pendidikan dapat timbul jika kurikulum diberikan kepada anak terlalu cepat/terlalu lambat,untuk menghadapi perubahan dan perkembangan pendidikan yang terus menerus perlu adanya penyuluhan untuk menumbahkan motivasi dan menciptakan situasi balajar dengan baik sehingga diperoleh kreatifitas dan kepemimpinan yang positif pada aktrifitas melalui penyuluhan kepada orang tua dan murid.

B. Bimbingan Konseling di Sekolah Mengah
          Tujuan pendidikan menengah acap kali dibiaskan oleh pandangan umum; demi mutu keberhasilanakademis seperti persentase lulusan, tingginya nilai Ujian Nasional, atau persentase kelanjutan ke perguruan tinggi negeri. Kenyataan ini sulit dimungkiri, karena secara sekilas tujuan kurikulum menekankan penyiapan peserta didik (sekolah menengah umum/SMU) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau penyiapan peserta didik (sekolah menengah kejuruan/SMK) agar sanggup memasuki dunia kerja.
          Penyiapan peserta didik demi melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi akan melulu memperhatikan sisi materi pelajaran, agar para lulusannya dapat lolos tes masuk perguruan tinggi. Akibatnya, proses pendidikan di jenjang sekolah menengah akan kehilangan bobot dalam proses pembentukan pribadi. Betapa pembentukan pribadi, pendampingan pribadi, pengasahan nilai-nilai kehidupan (values) dan pemeliharaan kepribadian siswa (cura personalis) terabaikan. Situasi demikian diperparah oleh kerancuan peran di setiap sekolah. Peran konselor dengan lembaga bimbingan konseling (BK) direduksi sekadar sebagai polisi sekolah. Bimbingan konseling yang sebenarnya paling potensial menggarap pemeliharaan pribadi-pribadi, ditempatkan dalam konteks tindakan-tindakan yang menyangkut disipliner siswa. Memanggil, memarahi, menghukum adalah proses klasik yang menjadi label BK di banyak sekolah. Dengan kata lain, BK diposisikan sebagai “musuh” bagi siswa bermasalah atau nakal. merujuk pada rumusan Winkel untuk menunjukkan hakikat bimbingan konseling di sekolah yang dapat mendampingi siswa dalam beberapa hal. Pertama, dalam perkembangan belajar di sekolah (perkembangan akademis). Kedua, mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, sekarang maupun kelak. Ketiga, menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, serta menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Keempat, mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar di sekolah dan terlalu mempersukar hubungan dengan orang lain, atau yang mengaburkan cita-cita hidup. Empat peran di atas dapat efektif, jika BK didukung oleh mekanisme struktural di suatu sekolah.
          Proses cura personalis di sekolah dapat dimulai dengan menegaskan pemilahan peran yang saling berkomplemen. Bimbingan konseling dengan para konselornya disandingkan dengan bagian kesiswaan. Wakil kepala sekolah bagian kesiswaan dihadirkan untuk mengambil peran disipliner dan hal-hal yang berkait dengan ketertiban serta penegakan tata tertib. Siswa mbolosan, berkelahi, pakaian tidak tertib, bukan lagi konselor yang menegur dan memberi sanksi. Reward dan punishment, pujian dan hukuman adalah dua hal yang mesti ada bersama-sama. Pemilahan peran demikian memungkinkan BK optimal dalam banyak hal yang bersifat reward atau peneguhan. Jika tidak demikian, BK lebih mudah terjebak dalam tindakan hukum-menghukum. Mendesak untuk diwujudkan, prinsip keseimbangan dalam pendampingan orang-orang muda yang masih dalam tahap pencarian diri. Orang-orang muda di sekolah menengah lazimnya dihadapkan pada celaan, cacian, cercaan, dan segala sumpah-serapah kemarahan jika membuat kekeliruan. Namun, jika melakukan hal-hal yang positif atau kebaikan, kering pujian, sanjungan atau peneguhan. Betapa ketimpangan ini membentuk pribadi-pribadi yang memiliki gambaran diri negatif belaka. Jika seluruh komponen kependidikan di sekolah bertindak sebagai yang menghakimi dan memberikan vonis serta hukuman, maka semakin lengkaplah pembentukan pribadi-pribadi yang tidak seimbang.
          BK dapat diposisikan secara tegas untuk mewujudkan prinsip keseimbangan. Lembaga ini menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa untuk datang membuka diri tanpa waswas akan privacy-nya. Di sana menjadi tempat setiap persoalan diadukan, setiap problem dibantu untuk diuraikan, sekaligus setiap kebanggaan diri diteguhkan. Bahkan orangtua siswa dapat mengambil manfaat dari pelayanan bimbingan di sekolah, sejauh mereka dapat ditolong untuk lebih mengerti akan anak mereka.
Tantangan pertama untuk memulai suatu proses pendampingan pribadi yang ideal justru datang dari faktor-faktor instrinsik sekolah sendiri. Kepala sekolah kurang tahu apa yang harus mereka perbuat dengan konselor atau guru-guru BK. Ada kekhawatiran bahwa konselor akan memakan “gaji buta”. Akibatnya, konselor mesti disampiri tugas-tugas mengajar keterampilan, sejarah, jaga kantin, mengurus perpustakaan, atau jika tidak demikian hitungan honor atau penggajiannya terus dipersoalkan jumlahnya. Sesama staf pengajar pun mengirikannya dengan tugas-tugas konselor yang dianggapnya penganggur terselubung. Padahal, betapa pendampingan pribadi menuntut proses administratif dalam penanganannya.
          BK yang baru dilirik sebelah mata dalam proses pendidikan tampak dari ruangan yang disediakan. Bisa dihitung dengan jari, berapa jumlah sekolah yang mampu (baca: mau!) menyediakan ruang konseling memadai. Tidak jarang dijumpai, ruang BK sekadar bagian dari perpustakaan (yang disekat tirai), atau layaknya ruang sempit di pojok dekat gudang dan toilet. Betapa mendesak untuk dikedepankan peran BK dengan mencoba menempatkan kembali pada posisi dan perannya yang hakiki. Menaruh harapan yang lebih besar pada BK dalam pendampingan pribadi, sekarang ini begitu mendesak, jika mengingat kurikulum dan segala orientasinya tetap saja menjunjung supremasi otak. Untuk memulai mewujudkan semua itu, butuh perubahan paradigma para kepala sekolah menengah dan semua pihak yang terlibat didalam proses kependidikan.
 
SUMBER : http://psikonseling.blogspot.com/2009/01/perlunya-bimbingan-dan-konseling-di.html

Senin, 11 April 2011

Simfoni Luar Biasa (Jaiden’s Choir) : Balada Anak-anak Terlupakan

Dibalik film SIMFONI LUAR BIASA, tersembunyi begitu banyak hal yang sangat tak tertudaga oleh kita....
Semua yang tersembunyi itu adalah untuk mereka saudara-saudara kita yang memiliki kebutuhan khusus sejak dilahirkan, mereka yang juga membutuhkan KASIH SAYANG, PERHATIAN, bahkan yang terpenting adalah PENDIDIKAN.

“Yang penting adalah agar mereka bisa mengekspresikan dengan cara-cara yang dapat diterima secara social, sesuai dengan usianya,” ujar Psikolog Dr Lucia RM Royanto.  
Dengan mempelajari, menganalisis bakat, kemampuan, dan keterampilan dari setiap ABK. Anak-anak berkebutuhan khusus yang cukup cerdas didorong untuk melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Sedangkan mereka yang kemampuan intelektualnya sedang, diarahkan belajar di sekolah menengah kejuruan dan mereka yang tidak mampu diberikan pendidikan nonformal. anak-anak yang menderita bibir sumbing, hydrocephalus (pembesaran kepala akibat penumpukan cairan), serta bayi yang tidak memiliki dubur (atresia ani) di berbagai desa sebaiknya diupayakan agar mereka bisa menjalani operasi untuk mengatasi penderitaannya. Untuk anak-anak berkebutuhan khusus, pemerintah memberikan bantuan melalui panti berupa makanan tambahan, alat keterampilan, dan ternak. Namun, bantuan para donatur belum mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan para ABK.
Sekolah inklusi adalah sekolah reguler yang mengkoordinasi dan mengintegrasikan siswa reguler dan siswa penyandang cacat dalam program yang sama, dari satu jalan untuk menyiapkan pendidikan bagi anak penyandang cacat adalah pentingnya pendidikan inklusi, tidak hanya memenuhi target pendidikan untuk semua dan pendidikan dasar 9 tahun, akan tetapi lebih banyak keuntungannya tidak hanya memenuhi hak-hak asasi manusia dan hak-hak anak tetapi lebih penting lagi bagi kesejahteraan anak, karena pendidikan inklusi mulai dengan merealisasikan perubahan keyakinan masyarakat yang terkandung di mana akan menjadi bagian dari keseluruhan, dengan demikian penyandang cacat anak akan merasa tenang, percaya diri, merasa dihargai, dilindungi, disayangi, bahagia dan bertanggung jawab. inklusi terjadi pada semua lingkungan sosial anak, Pada keluarga, pada kelompok teman sebaya, pada sekolah, pada institusi-institusi kemasyarakatan lainnya. Sebuah masyarakat yang melaksanakan pendidikan inklusi berkeyakinan bahwa hidup dan belajar bersama adalah cara hidup (way of life) yang terbaik, yang menguntungkan semua orang, karena tipe pendidikan ini dapat menerima dan merespon setiap kebutuhan individual anak. Dengan demikian sekolah atau pendidikan menjadi suatu lingkungan belajar yang ramah anak-anak. Pendidikan inklusi adalah sebuah sistem pendidikan yang memungkinkan setiap anak penuh berpartisipasi dalam kegiatan kelas reguler tanpa mempertimbangkan kecacatan atau karakteristik lainnya. Disamping itu pendidikan inklusi juga melibatkan orang tua dalam cara yang berarti dalam berbagi kegiatan pendidikan, terutama dalam proses perencanaaan, sedang dalam belajar mengajar, pendekatan guru berpusat pada anak.

1. Modifikasi alokasi waktu Modifikasi alokasi waktu disesuaikan dengan mengacu pada kecepatan belajar siswa.
Misalnya materi pelajaran (pokok bahasan) tertentu dalam kurikulum reguler (Kurikulum Sekolah Dasar) diperkirakan alokasi waktunya selama 6 jam.
* Untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi di atas normal (anak berbakat) dapat dimodifikasi menjadi 4 jam.
* Untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi relatif normal dapat dimodifikasi menjadi sekitar 8 jam;
* Untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi di bawah normal (anak lamban belajar) dapat dimodifikasi menjadi 10 jam, atau lebih; dan untuk anak tunagrahita menjadi 18 jam, atau lebih; dan seterusnya.

2. Modifikasi isi/materi
* Untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi di atas normal, materi dalam kurikulum sekolah reguler dapat digemukkan (diperluas dan diperdalam) dan/atau ditambah materi baru yang tidak ada di dalam kurikulum sekolah reguler, tetapi materi tersebut dianggap penting untuk anak berbakat.
* Untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi relatif normal materi dalam kurikulum sekolah reguler dapat tetap dipertahankan, atau tingkat kesulitannya diturunkan sedikit.
* Untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi di bawah normal (anak lamban belajar/tunagrahita) materi dalam kurikulum sekolah reguler dapat dikurangi atau diturunkan tingkat kesulitannya seperlunya, atau bahkan dihilangkan bagian tertentu.

3. Modifikasi proses belajar-mengajar
* Mengembangkan proses berfikir tingkat tinggi, yang meliputi analisis, sintesis, evaluasi, dan problem solving, untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki inteligensi di atas normal;
* Menggunakan pendekatan student centerred, yang menenkankan perbedaan individual setiap anak;
* Lebih terbuka (divergent);
* Memberikan kesempatan mobilitas tinggi, karena kemampuan siswa di dalam kelas heterogen, sehingga mungkin ada anak yang saling bergerak kesana-kemari, dari satu kelompok ke kelompok lain.
* Menerapkan pendekatan pembelajaran kompetitif seimbang dengan pendekatan pembelajaran kooperatif. Melalui pendekatan pembelajaran kompetitif anak dirangsang untuk berprestasi setinggi mungkin dengan cara berkompetisi secara fair. Melalui kompetisi, anak akan berusaha seoptimal mungkin untuk berprestasi yang terbaik, “aku-lah sang juara”!
Namun, dengan pendekatan pembelajaran kompetitif ini, ada dampak negatifnya, yakni mungkin “ego”-nya akan berkembang kurang baik. Anak dapat menjadi egois.
Untuk menghindari hal ini, maka pendekatan pembelajaran kompetitif ini perlu diimbangi dengan pendekatan pembelajaran kooperatif.
Melalui pendekatan pembelajaran kooperatif, setiap anak dikembangkan jiwa kerjasama dan kebersamaannya. Mereka diberi tugas dalam kelompok, secara bersama mengerjakan tugas dan mendiskusikannya. Penekanannya adalah kerjasama dalam kelompok, dan kerjasama dalam kelompok ini yang dinilai. Dengan cara ini sosialisasi anak dan jiwa kerjasama serta saling tolong menolong akan berkembang dengan baik.
Dengan demikian, jiwa kompetisi dan jiwa kerjasama anak akan berkembang harmonis.
* Disesuaikan dengan berbagai tipe belajar siswa (ada yang bertipe visual; ada yang bertipe auditoris; ada pula yang bertipe kinestetis).
Tipe visual, yaitu lebih mudah menyerap informasi melalui indera penglihatan.Tipe auditoris, yaitu lebih mudah menyerap informasi melalui indera pendengaran.Tipe kinestetis, yaitu lebih mudah menyerap informasi melalui indera perabaan/gerakan.Guru hendaknya tidak monoton dalam mengajar sehingga hanya akan menguntungkan anak yang memiliki tipe belajar tertentu saja.


SUMBER : 
http://smanj.sch.id/index.php/arsip-tulisan-bebas/40-artikel/115-pendidikan-inklusi-pendidikan-terhadap-anak-berkebutuhan-khusus

Rabu, 06 April 2011

FENOMENA PENDIDIKAN



FENOMENA PENDIDIKAN

Fenomena 1 : Seorang siswa kelas 2 SD di Bandung mengadu kepada gurunya perihal kemarahan orang tuanya pada dirinya, karena siswa tersebut telah melarang orang tuanya merokok. Kekerasan orang tua dirumah yang terbawa ke sekolah ( Iwan Gunawan, 7/3/2008 ).

Pembahasan :

Dari segi psikologi keluarga, apa yang dialami anak di keluarga akan sangat berpengaruh pada perilaku anak tersebut. Apa yang diterimanya di keluarga ada kemungkinan besar akan diterapkannya di lingkungan bermainnya. Dalam kasus ini, orang tua anak tersebut mendidik dengan cara kekerasan. Si anak kemudian mempelajari bahwa cara mendidik yang baik itu adalah dengan kekerasan. Jadi apabila ada teman di lingkungan bermainnya yang berbuat salah, anak tersebut akan mengingatkan bahwa perbuatan temannya itu salah dalam bentuk kekerasan, misalnya dengan memukul, mencubit, atau mengajak bertengkar temannya tersebut. Intinya, pendidikan dalam keluarga adalah dasar pembentukan awal perilaku anak, dimana baik dan buruknya perilaku anak tergantung pada apa yang diajarkan orang tua kepada anak tersebut.

Dari segi psikologi bimbingan sekolah, anak diajarkan untuk mampu bersosialisasi dengan lingkungan bermainnya. Dalam ruang lingkup ini, guru dan teman merupakan faktor yang sangat berperan bagi pembentukan perilaku anak. Dalam kasus ini, mungkin lingkungan sekolah anak tersebut kurang memperhatikan faktor-faktor apa yang menyebabkan anak tersebut suka bersikap tempramen terhadap teman-temannya. Lingkungan sekolah tidak mengupayakan solusi yang baik dalam mengatasi perilaku anak tersebut, sehingga perilaku anak tersebut yang suka memukul temannya tidak terkontrol karena tidak adanya bimbingan perilaku yang diberikan. Intinya, pendidikan dalam sekolah membantu dalam menyelesaikan pembentukan perilaku anak yang belum sempurna dalam keluarganya.

Dari segi psikologi pendidikan, tokoh John Deway mengemukakan bahwa anak adalah pembelajar aktif (active learner). Apa yang diperoleh anak dalam keluarga maupun sekolah akan disalurkannya dalam lingkungan masyarakat luas. Jadi, jika yang didapat adalah hal buruk maka yang diberikannya kepada lingkungan juga hal yang buruk dan begitu juga sebaliknya. Dalam kasus ini, anak tersebut kurang diperhatikan perilakunya oleh keluarga dan sekolah sehingga berakibat pada sikap anak yang menjadi tempramen. Untuk itu dibutuhkan bimbingan perilaku untuk mengatasi perilaku anak tersebut. Intinya, psikologi pendidikan menyediakan teori-teori yang mungkin dapat diterapkan dalam membimbing perilaku anak menjadi lebih baik.


Fenomena 2 : Film Laskar Pelangi Dan Fenomena Pendidikan Kita.
Mendengar kata ‘Laskar Pelangi’, benak kita tentu akan tertuju pada novel tetralogi karangan Andrea Hirata yang rilis tiga tahun lalu. Suksesnya Laskar Pelangi yang mengangkat kehidupan kaum pinggiran nan miskin dan terlupakan di Pulau Belitong (sekarang Provinsi Bangka Belitung) menjadikan tokoh Ikal, Lintang, Mahar dkk sebagai pahlawan-pahlawan baru menggantikan tokoh `si Cowok Idaman’ dalam kebanyakan karya teenlit atau tokoh `Nayla si Trauma Seks’dalam kebanyakan sastra kelamin saat ini. Maka tak heran, bila sejumlah kritikus sastra memandang Laskar Pelangi sebagai fenomena baru, baik di ranah kesusastraan maupun perfilman nasional.Dalam latar kisah sekolah rekaan Andreainilah kita akan menemukan representasi mengkhawatirkan tentang praktik pendidikan formal di Indonesia yang kini tengah menuju pada `kematiannya’.

Pembahasan :

Dari segi psikologi keluarga, seperti yang sudah dijelaskan pada pembahasan fenomena 1 keluarga merupakan wadah dasar pembentukan perilaku anak. Dalam kasus ini, keluarga Lintang menganggap keputusan menyekolahkan Lintang adalah keputusan yang tepat dan berharap Lintang dapat mengeluarkan mereka dari lingkaran kemiskinan yang telah lama mengikat mereka hingga sulit bernapas. Ayah dan ibu Lintang percaya bahwa dengan menyekolahkan anaknya tersebut, Lintang akan membawa nasib keluarganya menjadi lebih baik di masa depan. Dari pernyataan orang tua Lintang tersebut, dapat kita lihat bahwa keluarga Lintang membentuk perilaku positif bagi jati diri Lintang. Mereka mampu memotivasi Lintang, meskipun mereka tinggal di daerah terpencil jauh dari kemajuan IPTEK dan mereka tergolong keluarga yang prasejahtera.

Dari segi psikologi bimbingan sekolah, guru mereka sendiri yang menyusun silabus pelajaran sekolah dan mengajarkan kepada mereka sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi. Mereka diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran sekolah yang diajarkan sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengamalan lainnya, tetapi mampu membangkitkan semangat belajar dalam diri anak-anak muridnya. Dari sini kita bisa lihat, bahwa lingkungan sekolah Lintang juga memberi pengaruh positif terhadap cara pandang dan perilaku Lintang.

Dari segi psikologi pendidikan, tokoh John Dewey mengemukakan bahwa setiap anak (lelaki maupun perempuan, dari semua lapisan sosial-ekonomi-etnis) berhak dan layak mendapatkan pendidikan. Meskipun Lintang dan kawan-kawannya tinggal di daerah pedalaman terpencil dan rata-rata berasal dari keluarga prasejahtera, mereka tetap layak mendapatkan pendidikan yang walaupun pendidikan yang diperoleh belum masuk standar intitusional. Namun, ini sangat menunjang dan mendukung pembentukan sikap dan pengetahuan pada Lintang dan kawan-kawannya.

Fenomena 3 : "Early Ripe, Early Rot...!"
Orang tua percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Bagi orang tua setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!
“Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersimpan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita"
(destoyevsky' s brothers karamoz)

Pembahasan :

Dari segi psikologi keluarga, keluarga seharusnya mengerti dan paham apa yang dibutuhkan anak dan sampai dimana sebenarnya kemampuan anak. Keluarga yang terlalu menuntut dan menekan anak untuk menjadi sosok yang sempurna di masa depannya bukanlah keluarga yang baik. Keluarga yang baik adalah keluarga yang mengenali anaknya dan mengembangkan apa yang menjadi kemampuan anaknya. Tidak salah memberikan pendidikan di usia dini terhadap anak tetapi perhatikanlah apakah anak sudah mampu menerima dan menyerap pelajaran yang akan diberikan. Masa kanak-kanak seharusnya diisi dengan kenangan-kenangan indah bukan tekanan-tekanan psikologis dari keluarga. Karena kenangan masa kanak-kanak adalah kenangan yang akan selalu diingat sebagai kenangan yang indah. Jadi, jika yang didapat ketika anak-anak adalah kenangan buruk, kenangan indah apa yang akan diingat nantinya ??? 

Dari segi psikologi bimbingan sekolah, seperti yang sudah kita ketahui saat ini telah banyak sekolah-sekolah untuk anak usia dini. Namun, yang terpenting adalah bagaimana sekolah itu mampu menyelaraskan antara kemampuan anak dengan pelajaran yang diberikan di sekolah. Saat ini anak yang disekolahkan di Play Group sudah diajarkan bahasa Inggris dan menghitung. Apakah itu wajar ?? Seharusnya mereka perlu diajarkan sebatas maengenal gambar saja, agar pikiran mereka tidak terlalu dipress dan ditekan. Mungkin memang mereka mampu menerima dengan cepat pelajaran, tetapi bagaimana dengan kondisi psikologisnya ?? Anak mungkin akan menunjukkannya dengan perilaku yang semakin pendiam atau behkan jadi hyperaktif. Jadi, sekolah untuk usia dini jangan hanya mementingkan pelajaran kognitif saja, tetapi perilaku juga sangat penting diperhatikan.

Dari segi psikologi pendidikan, tokoh John Dewey mengemukakan bahwa yang terpenting adalah mengajarkan anak agar mampu bersosialisasi dengan baik dengan lingkungannya. Agar mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan campur tangan keluarga dan sekolah yang baik pula. Mengajar anak juga harus efektif, ini dikemukakan oleh William James. Apa yang diajarkan kepada anak haruslah sesuatu yang baik dan mampu diterima oleh penalaran anak. Penalaran anak itulah ynag harus dikembangakan, ini diungkapkan oleh E.L.Thorndike. Bukan keinginan orang tua yang dikembangkan tetapi kemampuan anak itulah yang dikembangkan. Jadi, kenalkanlah  anak-anak itu terlebih dulu ke lingkungan bermainnya, dari situ akan terlihat kemampuan anak itu. Kembangkanlah kemampuan itu dengan cara yang efektif. Dan tanamkan keahlian penalaran anak untuk mampu mencapai apa yang menjadi tujuannya.