Senin, 09 September 2013

BAB I TINJAUAN

Kekuatan manusia untuk mengubah dirinya sendiri, yakni untuk belajar , mungkin merupakan aspek yang paling mengesankan dari diri manusia.
 (Thorndike, 1931)

Hanya manusia yang memiliki otak yang berkembang dengan baik yang k digunakan untuk melakukan tindakan yang memiliki tujuan (Goldberg, 2001). Di antara kemampuan itu adalah mengidentifikasi objek, merancang tujuan, menyusun tujuan, mengorganisasikan sumber daya, dan memonitor konsekuensi.
Aktifitas kognitif terkait dengan tiga aspek unik dari kecerdasan manusia. Pertama, manusia mampu memperlajari penemuan, penciptaan, ide-ide dari pemikiran besar dan ilmuwan besar di masa lampau. Kedua, individu mampu mengembangkan pengetahuan tentang tempat dan kejadian yang belum mereka alami secara personal melalui pengalaman orang lain. Ketiga, manusia menyesuaikan lingkungan dengan diri mereka, bukan sekedar beradaptasi dengan lingkungan.
Pada bab 1 akan dibahas mengenai topik-topik tentang arti pentingnya dari belajar, usaha prateoris untuk menjelaskan apa itu belajar, kriteria dan fungsi teori belajar, hal-hal yang mempengaruhi perkembangan teori belajar, dan filsafat yang disebut konstruktivisme.
Studi belajar bukanlah sekedar latihan akademik, ia adalah aspek penting baik bagi individu maupun masyarakat. Bagi individu, studi tentang belajar dapat menjelaskan tentang pemerolehan berbagai kemampuan dan keterampilan, tentang strategi untuk menjalankan peran di dunia, serta tentang sikap dan nilai yang memandu tindakan seseorang. Bagi masyarakat adalah untuk mempelajari tentang nilai, bahasa dan perkembangan kultur , pengalaman yang diwarisakan. Mengingat pentingnya belajar bagi individu dan masyarakat, maka masyarakat tidak bisa membiarkan proses pendidikan begitu saja. Dibutuhkan system pengajaran tertentu untuk mengajarkan warisan kultur kepada generasi juda dan mempersiapkan mereka untuk mengambil alih peran produktif pendahulu mereka.

KRITERIA TEORI BELAJAR
Clark Hull (1935), seorang teoritis behavioral mengidentifikasi tiga kriteria untuk setiap teori. Pertama, adalah seperangkat asumsi yang eksplisit yang merupakan keyakinan dasar teoritis tentang suatu fenomena yang akan dibahas. Tiga asumsi dasar dari kondisi belajar menurut Robert Gagne (1972, 1977). Pertama, belajar adalah akuisisi struktur kompleks kemampuan yang dipelajari yang didasarkan pada proses belajar sebelumnya. Kedua, tidak satupun karakteristik-karakteristik yang dapat diaplikasikan untuk semua belajar. Ketiga, konsep belajar manusia yang memadai harus berlaku untuk berbagai konteks di mana belajar itu terjadi
Kedua, suatu teori harus mencakup definisi yang eksplisit tentang istilah penting. Ketiga, langkah selanjutnya bagi teoritis adalah menarik proposisi (prinsip) spesifik dari asumsi yang dapat diuji melaui riset. Persyaratan yang keempat, yang hanya berlaku untuk teori belajar adalah teori harus dapat menjelaskan dinamika psikologis dasar dari kejadian yang mempengaruhi belajar.

         FUNGSI TEORI BELAJAR
       A. Fungsi Umum
Suppes (1974) mengidentifikasi empat funsi umum dari teori. Pertama adalah sebagai kerangka untuk melakuakn riset, kedua adalah memberikan kerangka penataan informasi yang spesifik, ketiga untuk mengungkapkan kompleksitas dan kekaburan suatu kejadian. Keempat, teori memungkinkan melahirkan wawasan baru tentang situasi sehingga prinsip atau teori sebelumnya perlu diperbaiki dan kelima adalah berguna sebagai penjelasan atas suatu kejadian.
      B. Fungsi Khusus.
Teori belajar yang baik memenuhi beberapa fungsi, selains ebgaia kerangka riset, teori juga harus memberikan pemahaman baru tentang situasi dan berfungsi sebagai penjelasan kerja atas kejadian-kejadian. Fungsi-fungsi spesifik utamanya adalah menyangkut instruksi, termasuk perencanaan dan evaluasi instruksi serta memberikan informasi tentang problem di kelas.

         KONSTRUKTIVISME EDUKASIONAL
      Pendapat konstruktivis mengenai sifat pengetahuan banyak mereduksi atau mengesampingkan peran realitas eksternal dalam produksi pengetahuan. Pendapat konstruktivis social radikal mengatakan bahwa pengetahuan sepenuhnya adalah produk dari proses social. Objek-objek adlaah artefak social dan teori ilmiah hanya merefleksikan ,milieu social tempat di mana teori itu muncul. Salah satu perspektif konstruktivis social radikal berpendapat bahwa tugas menjelaskan dunia adalah proses linguistic, bukan proses kognitif. Belakangan ada tiga tioe konstruktivisme edukasional. Konstruktivisme pribadi atau individual, antara lain adalah, memandang semua pengetahuan sebagai konstruksi manusia, individu menciptakan pegnetahuan dan mengonstruksi konsep dan sudut pandang hanya bisa dinilai secara parsial berdasarkan korespondensinya dengan norma yang diterima secara umum.

sumberGredler, Margaret.E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar