Tampilkan postingan dengan label PAEDAGOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAEDAGOGI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juni 2014

Testimoni Perkuliahan Paedagogi

      Perkuliahan mata kuliah Paedagogi yang berlangsung selama satu semester ini penuh dengan dinamika, banyak terjadi kesalahan yang dilakukan oleh para peserta perkulihan. Tidak berkomitmen dan kurangnya tanggungjawab untuk melakukan proses belajar mengajar para peserta didik membuat suasana kelas sering mengalami kepasifan. Kontrak perkuliahan yang diberikan sepertinya tidak menjadi patokan dan pedoman bagi para peserta perkuliahan, hal tersebut terbukti dengan tidak tepat waktunya pengumpulan tugas rancangan proses pembelajaran. Dosen pengampu sudah berusaha melakukan yang terbaik agar para peserta didik bisa melakukan tugasnya tepat waktu, namun masih saja peserta didik meakukan kesaahan.
      Secara keseluruhan sepertinya kelas Paedagogi sangat mengambarkan kondisi proses belajar mengajar untuk anank-anak, karena saat berada di dalam kelas suasana pasif mengharuskan dosen pengampu untuk mengarahkan dan terus mengarahkan apa yang seharusnya dikerjakan dan menjadi tanggungjawab kami sebagai seorang mahasiswa yang sedang mengikuti mata kuliah Paedagogi. Walaupun dengan kondisi yang demikian saya merasa kelas mata kuliah Paedagogi sudah membantu saya untuk menjadi seorang mahasiswa yang bertanggungjawab untuk menjalankan setiap tugas yang diberikan serta menjadi sosok seorang mahasiswa yang nantinya bisa menjadi seorang pendidik. 
      Terimakasih kasih banyak saya ucapkan buat dosen pengampu yang telah memberikan waktunya untuk mendampingi kami selama proses belajar mengajar berlangsung. Terimakasih banyak juga buat kesabaran dan pengertiannya selama ini saat kami melakukan kesalahan dan tidak melakukan semua tanggungjawab kami dengan baik. Semoga setelah kelas Paedagogi ini berakhir kami bisa menjadi mahasiswa yang benar-benar bertanggungjawab dan berkomitmen dengan status kami sebagai seorang mahasiswa.

Review Hasil Presentasi Kelompok

Pada hari Senin tanggal 26 Mei 2014 adalah saat dimana saya dan teman-teman sekelompok saya tampil didepan kelas untuk mempresentasikan hasil tugas proses pembelajaran yang kami lakukan di Taman Kanak-Kanak Dharma Wanita Persatuan USU. Cukup terkejut ketika dosen pengampu memanggil kelompok kami sebagai kelompok pertama untuk presentasi. Sejujurnya kelompok kami kurang persiapan untuk tampil, selain itu juga alat bantu yang kami gunakan saat mengajar juga lupa kami bawa. Namun, kami tetap melakukan yang terbaik dan semaksimal mungkin saat presentasi serta menerima segala kritik dan saran baik itu dari dosen pengampu maupun dari teman-teman peserta mata kuliah Paedagogi. 
      Berikut adalah kritik yang diberikan oleh dosen pengampu:
·         Lay out slide tdk standar
·         Presentasi tidak menggambarkan proses pembelajaran yg diberika
·         Kurang dukungan visual
·         Ada baiknya dinamika pembelajaran didukung dengan alat peraga atau dokumentasi pembelajaran
      Berikut adalah beberapa kritik dari teman-teman peserta kuliah Paedagogi:
·         Masih kurang komunikatif dalam penyampaian juga teori pedagogi nya masih kurang terintegrasi dan terjabarkan sehingga hubungan antara teori dan pembelajaran masih blm kelihatan
·         Performa kelompok saat menyampaikan presentasi sudah baik namun, slide show dan penyampaian materi kurang menarik dan sedikit flat. Slide sangat padat tulisan. Presenter terlihat menikmati sendiri dengan bahan yg disampaikan dan kurang berinteraksi dengan audiens. Konten yang disampaikan juga sudah lumayan baik
·         Sebenarnya konten yang ingin disampaikan sudah sangat baik, karna kelompok terlihat sangat detail dan penuh persiapan sebelum terjun ke lapangan. Hanya saja proses dan penyusunan laporan yang baik tidak didukung dengan presentasi yang terkesan kurang persiapan. Kelompok menampilkan slide yang kurang menarik untuk dilihat, karena layout slide penuh dengan huruf. Yang terakhir, sepertinya kelompok kurang berkoordinasi sebelum presentasi, terlihat dalam tidak meratanya waktu yang digunakan setiap anggota kelompok dalam mempresentasikan laporan.

Berdasarkan kritik yang diberikan oleh dosen pengampu dan juga teman-teman, secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa presentasi yang kelompok lakukan memang kurang baik dan tidak sesempurna yang diharapkan. Dengan kondisi yang sedemikian rupa tersebut dosen pengampu memberkan nilai 70 kepada kelompok. Nilai yang diberikan memang sesuai dengan usaha serta cara kelompok menyampaikan hasil proses pembelajaran saat presentasi. 

Sabtu, 12 April 2014

TUGAS INDIVIDU


TUGAS MATA KULIAH PEDAGOGI

LAPORAN WAWANCARA GURU

O
L
E
H
Tota Fierda Ria Angelina Simbolon
101301092


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Lagu ciptaan Bapak Sartono yang berjudul “Hymne Guru” memiliki makna yang begitu dalam tentang bagaimana jasa seorang guru dalam dunia pendidikan. Guru sebagai seorang individu yang mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan menjadi sosok yang sangat banyak membantu para peserta didik dalam proses belajar mengajar. Mengajar atau mendidik merupakan sebuah seni dalam mentransformasikan bahan ajar kepada para peserta didik pada situasi dan dengan menggunakan media tertentu. Seni mengajar akan terlihat ketika terjadi interaksi antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Tidak mudah untuk menjadi seorang guru yang berkompeten dalam menjalankan setiap tugas dan tanggung jawabnya. Menjadi seorang guru merupakan pekerjaan mulia dan jasanya tidak akan mudah dilupakan oleh para peserta didik yang merasakan pendampingan dari seorang guru. Secara pribadi saya sendiri telah merasakan begitu besar jasa seorang guru sejak saya berada di TK (Taman Kanak-kanak), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Cara mengajar dan mendidik yang dilakukan oleh seorang guru akan berbeda-beda tergantung tingkat pendidikan para peserta didiknya.
Seorang guru TK (Taman Kanak-kanak) merupakan pendidik yang memiliki jasa dan cukup berperan dalam pendidikan anak pada tingkat usia dini. Seperti yang kita ketahui bahwa seorang anak yang berada pada tingkat usia dini sangat membutuhkan pendampingan yang cukup ketika sedang melakukan sebuah kegiatan. Kesabaran dan kesetiaan seorang guru TK dalam memberikan perhatian sangat dibutuhkan saat mengajar dan mendidik. Untuk melihat dan memahami bagaimana guru TK dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik, saya melakukan sebuah wawancara dengan seorang guru TK. Narasumber dalam wawancara yang saya lakukan adalah seorang guru yang sudah mengajar pada tingkat TK (Taman Kanak-kanak) sejak tahun 1984. Beliau sudah mulai menjadi seorang guru TK pada usia 21 tahun di daerah Kabupaten Langka namun masih berstatus sebagai seorang guru honor. Pada tahun 1995 beliau memperoleh Surat Keterangan (SK) menjadi seorang guru TK dan pindah mengajar ke sebuah TK di daerah kota Medan. Setelah 16 tahun mengajar, pada tahun 2011 beliau memperoleh Surat Keterangan (SK) sudah melakukan sertifikasi dan sampai hari ini beliau masih mengajar di TK tersebut.

BAB II
HASIL WAWANCARA

Data Pribadi.
Inisial                          : RE
Jenis kelamin               : Perempuan
Status                          : Guru TK (di salah satu TK kota Medan)
Usia                             : 50 tahun
Tahun SK Sertifikasi   : Tahun 2011
Lama mengajar            : 30 tahun (sejak tahun 1984 sampai sekarang)
Pengalaman mengajar : 1. Tahun 1984 – tahun 1995 mengajar TK di daerah Kab. Langkat
                                      2. Tahun 1995 sampai dengan sekarang mengajar TK di kota Medan
            Wawancara dilakukan pada hari Sabtu, 22 Maret 2014 pada pukul 09.30 WIB – pukul 10.00 WIB di TK tempat narasumber mengajar, tepatnya berada di ruang tamu. Posisi duduk saya dan narasumber saling berhadapan selama proses wawancara berlangsung. Pertanyaan yang diajukan mengenai bagaimana pandangan guru tentang pendidikan, motivasi yang mendasari, bagaimana sudut pandang sebagai guru dalam melihat peserta didik, apa filosofi dalam mengajar dan pendekatan dalam mengajar. Wawancara yang dilakukan diawali dengan memperkenalkan diri saya sebagai pewawancara dan meminta kesediaan narasumber untuk diwawancarai dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Kemudian saya memberikan kesempatan kepada narasumber untuk memperkenalkan dirinya terlebih dahulu sebelum masuk kepada pertanyaan-pertanyaan ini yang akan saya tanyakan. Setelah 30 menit proses wawancara berlangsung, adapun hasil wawancaranya adalah sebagai berikut:
            Beliau mengatakan bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk tetap dijadikan sebagai suatu kebutuhan bagi setiap individu. Seorang anak sebaiknya harus sudah mengenal dunia pendidikan sejak dini dengan masuk ke TK (Taman Kanak-kanak) sehingga ketika memasuki tingkat SD (Sekolah Dasar) tidak terkejut dan bisa menyesuaikan diri. Namun, saat ini pendidikan sudah sangat jauh dari hal yang diharapkan dan sudah kacau balau tidak seperti pada masa beliau mulai mengajar sebagai seorang guru. Pendidikan sudah  mulai mengalami penurunan, beliau mengatakan bahwa sistem pendidikan mulai keranah berbisnis. Sudah semakin banyak sekolah tertentu yang mulai membedaka-bedakan peserta didiknya (membedakan yang kaya dengan yang miskin, yang pintar dengan yang bodoh).
Sekolah yang sudah terkenal (memiliki nama) tidak hanya menerima peserta didik sesuai dengan kemampuan akademis yang dimiliki namun juga memiliki kecenderungan untuk menerima peserta didik yang mampu membayar lebih dari ketentuan adinistrasi yang telah ditentukan oleh pihak sekolah. Seperti sekarang ini, bahwa anak-anak SMA (Sekolah Menengah Atas) dengan anak kuliahan untuk administrasinya, bahkan memungkinkan lebih mahal pada anak SMA. Namun, walaupun begitu beliau mengatakan bahwa sesuatu yang berhubungan dengan pedndidikan memang peru perjuangan dan harus dibayar mahal. Beliau juga berpendapat bahwa sistem pendidikan dalam hal kurikulum juga mulai tidak terarah, bahwa ada TK yang sudah mengajarkan“calistung” (membaca, menulis, dan berhitung). Padahal seharusnya anak-anak dengan usia dini tidak seharusnya terlalu banyak diajarkan untuk membaca, menulis dan berhitung, apalagi jika sampai diberikan tugas (PR=Pekerjaan Rumah).
Beliau mengatakan bahwa mengajarkan “calistung” pada anak-anak TK boleh dilakukan, namun tidak sampai seperti mengajar untuk anak-anak pada tingkat Sekolah Dasar. Anak-anak TK seharusnya diajak untuk bermain sambil belajar, berbagi dan bermain bersama teman-teman. Beliau melihat bahwa sudah banyak TK yang kurikulum dan cara mengajarnya seperti anak SD (Sekolah Dasar). Bahkan beliau pernah mendengar ada TK yang memberikan tugas kepada anak-anak, sehingga membuat anak didik tersebut “mogok” untuk berangkat ke TK. Hal tersebut terjadi karena anak didik takut jika tugasnya tidak selesai maka guru akan memarahinya. Beliau mengatakan bahwa anak-anak pada usia dini setelah pulang dari TK keinginannya untuk bermain sangat besar, bukan untuk mengerjakan tugas seperti anak SD.
Ketika ditanyakan mengenai motivasi, beliau mengatakan bahwa sebenarnya motivasi beliau mulai mengajar sebagai guru TK (Taman Kanak-kanak) pada awalnya tidak ada, karena  sebenarnya beliau tidak ingin menjadi seorang guru. Ada alasan tertentu yang tidak bisa dijelaskan mengapa beliau mengambil keputusan untuk menjadi seorang guru. Kalimat yang menjadi awal jawaban adalah: “aduh, Ibu sebenarnya tidak ingin menjadi guru”. Namun setelah cukup lama berkecimpung dan berada dalam lingkungan pendidikan, beliau menjalani profesinya sebagai seorang guru dengan penuh tanggungjawab. Beliau mengatakan bahwa mengajar anak-anak di TK sangat menyenangkan dan akhirnya membuat beliau memiliki motivasi internal bahwa anak-anak usia dini sangat membutuhkan pendidikan melalui media pembelajaran di Taman Kanak-kanak untuk bermain sambil belajar sehingga memerlukan sosok seorang guru seperti beliau untuk mendampingi.
Menurut Beliau para peserta didik merupakan sosok yang menyenangkan untuk didampingi dan dibantu untuk menjadi anak yang baik serta berguna bagi kehidupan masa yang akan datang. Sebagai peserta didik, anak-anak TK adalah individu yang membutuhkan pendidikan melalui kasih sayang dan metode yang tidak membuat mereka merasa bosan. Anak-anak yang menjadi peserta didiknya saat ini menurut beliau adalah anak-anak yang sangat pintar, manis, lucu-lucu dan  sangat sopan. Beliau sangat senang dan bangga bisa menjadi seorang guru bagi anak-anak usia dini di Taman Kanak-kanak.
            Filosofi yang dimiliki beliau dalam mengajar adalah mengajar dengan tulus dan penuh kasih sayang serta kesabaran dengan menggunakan kurikulum sebagai pedoman supaya tidak menghilangkan esensi pendidikan. Beliau mengatakan bahwa ketika seorang guru yang mengajar hanya berpedoman pada kurikuum tidak memperhatikan kebutuhan peserta didik sesuai dnegan usianya akan membuat mereka merasa bosan. Sehingga dibutuhkan pendampingan seolah-olah guru TK adalah sosok yang bisa sabar, ikhlas dan tulus serta menyenangkan seperti orangtua dan bahkan seperti teman-teman sebaya.
            Pendekatan yang digunakan oleh beliau ketika mengajar anak-anak adalah dengan menggunakan alat bantu sebagai media untuk mempermudah beliau menjelaskan serta memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang topik yang akan diajarkan. Beliau menjelaskan bahwa dengan menggunakan alat bantu akan sangat membantu para peserta didik lebih mudah memahami apa yang disampaikan dan anak-anak akan lebih senang untuk belajar. Ketika sedang mengajar tentang warna, beliau menggunakan alat bantu berupa LKS (Lembar Kerja Siswa) yag berisi gambar-gambar buah yang penuh dengan warna. Bahkan, beliau juga mengajar dengan menggunakan balok-balok, bangun ruang dan kertas-kertas origami. Sesekali ketika sedang belajar tentang topik bercerita, baik itu cerita dongeng ataupun cerita nasehat beliau mencoba menarik perhatian para peserta didik dnegan menggunakan gambar-gambar tokoh yang ada di dalam cerita. Dengan begitu para peserta didik akan mengerti alur ceritanya, karena anak-anak TK tidak boleh dipakasakan dan diharuskan untuk bisa membaca kalimat yang panjang seperti cerita.

BAB III
PEMBAHASAN

Setelah melewati proses wawancara, pada bagian pembahasan ini saya akan mecoba menganalisa dan menjelaskan hasil wawancara dengan menggunakan teori Pedagogi.

a.       Bab 8 Pedagogi Tertindas dan Perbankan Pendidikan
“Beliau mengatakan bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting sebagai suatu kebutuhan bagi setiap individu. Seorang anak sebaiknya harus sudah mengenal dunia pendidikan sejak dini dengan masuk ke TK (Taman Kanak-kanak) agar ketika memasuki tingkat SD (Sekolah Dasar) tidak terkejut dan bisa menyesuaikan diri.”
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat dijelaskan bahwa pendidikan yang demikian menjadi sebuah tindakana laksana menyampaikan “setoran ke sebuah rekening bang”, dimana siswa (peserta didik) adalah deposit dan guru (pengajar) adalah deposan. Dalam konsep “perbankan pendidikan”, pengetahuan adalah hadiah yang diberikan oleh seorang guru yang telah memiliki pengalaman dalam mengajar kepada para peserta didik yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan. Anak usia dini yang masih belum memahami tentang apa itu pengetahuan dalam hal ini bermain peran sebagai  penerima, pegarsip dan menyimpan deposito, ibaratnya hanya sebatas sebagai kolektor. Sehingga segala ilmu pengetahuan yang diterima oleh anak-anak pada tingkat TK menjadi sebuah deposito yang akan digunakan nantinya ketika memasuki dunia pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi yaitu Sekolah Dasar (SD).

b.      Bab 3 Profil Guru yang Diinginkan
“Beliau mengatakan bahwa mengajar anak TK sangat menyenangkan dan membuat beliau memiliki motivasi untuk menjalani profesinya sebagai seorang guru dengan penuh tanggungjawab, karena anak-anak usia dini membutuhkan pendidikan dengan bermain sambil belajar serta membutuhkan sosok seorang guru seperti beliau.”
Berdasarkan kutipan wawancara tersebut, dapat dijelaskan bahwa beliau merupakan seorang guru yang baik dan diinginkan oleh instansi dan para peserta didik. Rasa tanggungjawab dan kesadaran yang dimiliki oleh beliau merupakan salah satu karakteristik dari seorang guru yang baik. Beliau memahami apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang guru TK yang efektif, dengan memiliki rasa bertanggungjawab terhadap statusnya sebagai seorang guru dan semakin termotivasi untuk mengajar. Serta memiliki pandangan positif pada pengajaran, pembelajar dan para peserta didiknya. Bahwa mengajar di tingkat TK adalah hal yang menyenangkan, dan para peserta didiknya merupakan sosok yang membutuhkan pendidikan dengan metode yang sesuai usia mereka saat ini. Memiliki harapan atas statusnya sebagai seorang guru TK dengan standar pribadi yang tinggi dan profesional serta memiliki semnagat untuk berkembang sebagai seorang professional. Beliau meyakini dirinya adalah sosok yang memiliki kemampuanyang baik dalam menjalankan tugasnya. Sebagai seorang guru TK dapat memahami dan menyajikan materi pelajaran dengan baik, bahwa ank-anak pada tingkat usia dini melalui bermain sambil belajar.

c.        Bab 4 Guru Frustasi dan Guru yang Baik
   “Menurut Beliau peserta didiknya merupakan sosok yang menyenangkan untuk didampingi agar menjadi anak yang baik serta berguna bagi kehidupan masa yang akan datang. Anak-anak TK adalah individu yang membutuhkan kasih sayang dan metode yang tidak membuat mereka merasa bosan.”
   Berdasarkan pernyataan yang dikemukankan oleh beliau, menunjukkan bahwa beliau adalah guru yang memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1.   Memiliki kesadaran akan tujuan, bahwa sebagai seorang guru haruslah mendidik para peserta didik dengan cara mentransformasi bahan ajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan kebutuhannya serta pada situasi yang telah ditentukan. Kesadaran bahwa antara pengajar dengan peserta didik harus memiliki dna membangun komunikasi yang baik selama proses belajar mengajar berlangsung untuk encapai tujuan bersama. Menjadi seorang guru yang baik dan bertanggungjawab serta menjadikan para peserta didik memahami setiap materi pengajaran yang disampaikan.
2.    Memiliki harapan akan keberhasilan bagi semua para peserta didiknya yang nantinya pasti menjadi sosok yang benar-benar berguna di kemudian hari. Dengan memiliki harapan yang positif akan memacu proses belajar mengajar semakin efektif, efisien serta berjalan sesuai dengan tujuan yang positif pula dan berjalan dengan baik tanpa mengalami hambatan yang berat.
3.     Mencerminkan komitmen pada pekerjaan beliau sebagai seorang guru TK, mengajar para peserta didik dengan penuh keyakinan diri (confidance), kesabaran (patience), memiliki rasa kasih sayang sejati kepada siswanya, serta memiliki kesediaan untuk membantu para peserta didik mencapai prestasi.
d.      Bab 6 Pedagogi Transformatif
     “Filosofi yang dimiliki beliau dalam mengajar adalah mengajar dengan tulus dan penuh kasih sayang serta kesabaran dengan menggunakan kurikulum sebagai pedoman supaya tidak menghilangkan esensi pendidikan.”
      Konstruksi sosial kurikulum dipahami sebagai seperngkat nilai-nilai dan keyakinan yang mencerminkan esensi anak didik sebagai makhluk transformasional, bukan sekedar dipersepsikan sebagai transaksi antara peserta didik dengan pengajarnya. Bahwa pengetahuan tidak dapat lagi dianggap sebagai konten yang netral, namun harus memiliki angenda bagi proses penciptaan pengetahuan, fasilitasi, hubungan kekuasaan serta kurikulum berbasis produk ilmu pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan dan hubungannya dengan kekuasaan berarti bahwa guru harus mampu dan bisa mengatasi tantangan yang sulit, yaitu berupa “politik pendidikan pembebasan” tanpa harus meninggalkan sebuah gagasan tentang esensi dari pendidikan pedagogi itu sendiri. Jadi, dalam dunia pendidikan memang dibutuhkan dimensi kritis pedagogi dalam memberikan landasan filosofi, pragmatis, dan intuitif bagi para guru ketika melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Dalam hal ini, beliau telah menggunakan dimensi ketulusan dan penuh kasih sayang saat mengajar untuk menciptakan suasana kelasa saat mengajar menjadi nyaman. Dengan begitu, kurikulum yang dijalankan tidak terlalu sulit untuk dilakukan kepada para peserta didik dan esensi pendidikan anak usia dini tetap sesuai dengan kurikulumnya.

e.        Bab 5 Pedagogi Tradisional dan Modern
“Pendekatan yang digunakan oleh beliau ketika mengajar anak-anak dengan menggunakan alat bantu sebagai media untuk mempermudah beliau menjelaskan serta memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang topik yang diajarkan.”
Pedagogi bermakna tentang bagaimana menjadi guru dalam menggabungkan alternatif strategi pembelajaran akan mendukung keterlibatan intelektual yang dimiliki oleh para peserta didik. Guru berusaha untuk memahami bahan ajar yang akan disampaikan di ruang kelas serta menentukan bagaimana cara mengajarnya. Pedagogi Modern mengacu pada sejauh mana seorang mampu mendampingi peserta didik untuk membina bukan yang selalu mengajari. Hal ini sesuai dengan karakteristik pedagogi yaitu pengajaran (teaching). Dalam hal ini beliau telah menggunakan teknik dan metode serta alat bantu dalam mentransformasikan konten pengetahuan, merangsang, mengawasi dan memfasilitasi tujuan pembelajaran agar berhasil.
BAB IV
KESIMPULAN
Adapun beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai kesimpulan adalah sebagai berikut:
1.  Ibu RE merupakan seorang guru yang telah memiliki cukup banyak pengalaman dalam mengajar yang terbukti dari lamanya masa pengabdian beliau selama 30 tahun (sejak tahun 1984 sampai sekarang). Selain itu juga, beliau telah mengikuti sertifikasi (Surat Keterangan Sertifikasi tahun 2011) yang bisa menjadi bukti bahwa memlalui sertifikasi yang diikuti seorang guru akan memiliki pengalaman yang lebih lagi dalam mengasah kemampuan serta keahliannya dalam mendidik para peserta didik.
2.   Berdasarkan 10 karakteristik guru yang baik, Ibu RE memiliki beberapa karakteristik tersebut yaitu, bertanggung jawab, percaya diri, sabar, mengajar dengan kasih sayang, berorientasi pada tujuan, dan memandang para peserta didik, pembelajaran serta cara mengajar dengan sudut pandang yang positif. Sehingga dengan sifat-sifat dan cara beliau daam mengajar dapat disimpulkan bahwa Ibu RE merupakan seorang guru yang baik.
3.   Ibu RE berpendapat bahwa dalam mengajar anak-anak pada tingkat usia dini (Taman Kanak-kank) harus menggunakan metode yang sesuai, misalnya menggunakan alat-alat bantu sesuai topik sehingga para peserta didik tidak merasa jenuh serta bosan selama mengikuti proses belajar mengajar.
4.    Pendidikan saat ini sudah mulai mengalami penurunan dalam sistem kurikulumnya, Ibu RE berpendapat bahwa anak-anak TK sekarang ini sudah mulai diajarkan cara membaca, menulis dan berhitung seperti anak pada tingkat Sekolah Dasar, sehingga seperti memaksakan kemampuan anak-anak pada tingkat usia dini.
5.  Ibu RE berpendapat bahwa sistem pendidikan tidak seharusnya melakukan perbedaan-perbedaan dalam hal kemampuan setiap individu peserta didiknya atau berdasarkan latar belakang status sosial yang dimilikinya. Karena dengan membedakan hal seperti itu akan membuat peserta didik merasa tidak diperhatikan dan akan menurunkan motivasinya untuk mengikuti proses belajar mengajar.

BAB V
SARAN

Setelah melewati proses wawancara dengan Ibu RE dan melakukan analisa hasil wawancara, adapun beberapa saran yang diharapkan bisa menjadikan masukan untuk kedepannya adalah sebagai berikut:
1.  Bagi para guru yang mengajar di tingkat Taman Kanak-kanak sebaiknya menggunakan metode yang sesuai dengan usia para peserta didik yang masih berada pada usia dini dan menyesuaikannya dengan kurikulum yang diberlakukan oleh pihak sekolah (dinas pendidikan)
2.   Untuk pihak sekolah sebaiknya memperhatikan peserta didiknya secara adil dan merata tanpa harus membeda-bedaknnya (secara akademis maupun secara status sosial-ekonominya) agar tidak terjadi penurunan motivasi bagi para peserta didik saat berada di lingkungan sekolah
3.    Pendidikan yang saat ini sudah semakin banyak dipengaruhi oleh kemajuan zaman sehingga kurikulum, metode yang digunakan maupun pendekatannya juga sudah mengalami banyak kemajuan. Namun, tetap perlu memperhatikan bagaimana sebaiknya dan sebenarnya untuk menjadi seorang guru yang benar-benar bertanggungjawab sehingga bisa memiliki kesepuluh karakteristik untuk dimiliki oleh setiap seorang guru yang baik bagi para peserta didiknya


DAFTAR PUSTAKA

Danim, S.  & Khairil. 2013. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung : Alfabeta

Sabtu, 05 April 2014

TUGAS KELOMPOK

TUGAS MATA KULIAH PEDAGOGI
LAPORAN PROSES PEMBELAJARAN DENGAN METODE PENDEKATAN PEDAGOGI
O
L
E
H

KELOMPOK 7


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2014

BAB I
LATAR BELAKANG
Taman Kanak-kanak merupakan salah satu bentuk dari pendidikan formal untuk anak-anak usia dini. Dibutuhkan pendidikan sejak usia dini agar ketika anak memasuki pendidikan Sekolah Dasar sudah bisa lebih mampu untuk beradaptasi. Salah satu kemampuan dasar yang seharusnya sudah diajarkan sejak usia dini adalah untuk mengenal huruf dan angka yang dilanjutkan dengan kemampuan membaca serta berhitung.
Pengajaran secara pedagogi diperlukan untuk mengajar anak-anak pada tingkat usia dini dalam kemampuan mengenal huruf, angka, membaca serta berhitung agar bisa menjadi fondasi yang kuat saat memasuki tingkat pendidikan Sekolah Dasar. Sehingga kami dari kelompok 7 mencoba untuk melakukan pengajaran dengan berbasis pedagogi kepada anak-anak tingkat pendidikan usia dini.

a.       Komunitas : Taman Kanak-kanak Dharma Wanita Persatuan USU (Kelas B)
                         Jln. Universitas No 73 USU Medan Baru
·         Visi TK DWP USU
-          Terwujudnya anak yang cerdas dan berakhlak mulia
·         Misi TK DWP USU
-          Melaksanakan proses pembelajaran yang disesuaikan dengan kurikulum taman kanak-kanak
-          Melaksanakan kegiatan pengetahuan agama, moral dan budi pekerti
-          Melaksanakan kegiatan keterampilan bagi peserta didik
-          Mengembangan kreativitas dan pengetahuan peserta didik
·         Tujuann TK DWP USU
-          Mengembangankan landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkepribadian luhur, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreative, inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
-          Mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, kinestetis, dan sosial peserta didik pada masa usia emas pertumbuhan dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.
-          Membantu peserta didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi nilai-nilai agama, moral, sosial emosional, kemandirian, kognitif dan bahasa, dan fisik atau motorik untuk siap memasuki pendidikan dasar.
·         Program Pembelajaran TK DWP USU Kurikulum 2008
Aspek-aspek perkembangan yang meliputi :
1. Bidang pembentukan perilaku
- Moral dan nilai-nilai agama
- Sosial ekonomi dan kemandirian
2. Bidang pengembangan kemampuan dasar
- Berbahasa
- Kogniif
- Fisik
·         Jumlah anak                                        : 21 orang
·         Latar belakang pendidikan anak         : Taman Kanak-kanak (TK)
·         Kebutuhan anak :
-          Mengenali angka dan huruf yang bentuknya mirip
-          Membaca dan menulis angka
b.      Waktu
·         Jumlah pertemuan                   : 3 kali pertemuan
·         Waktu setiap pertemuan         : Pukul 08.00 WIB - 09.00 WIB (60 menit)
c.       Setting Tempat
·         Lokasi                                    : di dalam ruangan kelas (in door)
·         Fasilitas yang digunakan         :
-          Papan tulis
-          Meja
-          Kursi
-          Spidol
-          Penghapus
-          Loker peserta didik
-          Lemari buku
-          Kipas angin
-          AC (Air Condisioner)
-    Perlengkapan permainan (boneka, tempat tidur boneka, balok-balok dan bentuk bangun ruang)
w  Lay out ruangan
-          Meja guru berada di sudut ruangan membelakangi pintu ruangan kepala sekolah
-   Posisi duduk peserta didik dikelompokkan menjadi empat kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari enam orang peserta didik dengan satu buah meja persegi panjang yang dikelilingi enam buah kursi.

BAB II
KONSEP RANCANGAN BELAJAR
a.      Pembagian Sekuen Pembelajaran
1. Pertemuan pertama, Selasa 18 Maret 2014 
·         Pendahuluan/ Perkenalan  (10 Menit)
-          Mengucapkan selamat pagi, menanyakan kabar hari ini, dan menanyakan sarapan apa pagi ini.
-          Berdoa
-          Bernyanyi : “ Disini senang disana senang”
·         Isi (40 menit)
-          Materi : Mengenalkan huruf dan mewarnai
ü  Menunjukkan dan menjelaskan bentuk-bentuk huruf
ü  Memberikan LKS yang berisi bentuk-bentuk huruf yang mirip (membentuk sebuah kalimat) yaitu huruf b, d, m, n dan p
ü  Menulis ulang kalimat yang dibentuk dari bentuk-bentuk huruf yang mirip
ü  Mewarni gambar yang ada di LKS
·         Penutup (10 Menit)
-          Memberikan informasi untuk membawa pensil warna
-          Mengulang dengan singkat pelajaran hari ini dengan menyanyikan lagu
A, B, C...”
-          Memberikan snack berupa cokelat kepada seluruh peserta didik
-          Mengucapkan selamat pagi dan selamat beristirahat.

2. Pertemuan kedua, Rabu 19 Maret 2014 
·         Pendahuluan/ Perkenalan (10 Menit)
-          Mengucapkan selamat pagi, menanyakan kabar hari ini, dan menanyakan sarapan apa pagi ini.
-          Berdoa
-          Bernyanyi : “Aku adalah anak gembala ”
·         Isi (40 menit)
-          Materi : Membaca dan menggambar
ü  Secara singkat menggulang materi yang telah diberikan pada hari sebelumnya
ü  Memberikan LKS yang berisi bentuk-bentuk huruf (membentuk kata) yaitu huruf a, c, d, e, i, u,o
ü  Menyuruh kepada beberapa para peserta didik untuk maju kedepan kelas dan mencoba membaca setiap kata yang ada pada LKS
ü  Menyuruh seluruh peserta didik untuk menggambar bebas
·         Penutup (10 Menit)
-          Memberikan snack berupa wafer cokelat kepada seluruh peserta didik
-          Mengucapkan selamat pagi dan selamat beristirahat.

3. Pertemuan ketiga, Kamis 20 Maret 2014 
·         Pendahuluan/ Perkenalan (10 Menit)
-          Mengucapkan selamat pagi, menanyakan kabar hari ini, dan menanyakan sarapan apa pagi ini.
-          Berdoa
-          Bernyanyi : “Satu ditambah satu sama dengan dua”
·         Isi (40 menit)
-          Materi : Berhitung
ü  Memperkenalkan angka-angka
ü  Memberikan LKS yang berisi beberapa gambar untuk dihitung berapa banyak jumlah gambar
ü  Menyuruh seluruh peserta didik untuk menghitung jumlah gambar yang ada di LKS dan menuliskan jumahnya
·         Penutup (10 Menit)
-          Memberikan kenang-kenangan berupa penghapus kepada seluruh peserta didik
-          Mengucapkan kata-kata perpisahan dan terima kasih kepada peserta didik
-          Mengucapkan selamat pagi dan selamat beristirahat

b.      Pembagian Tugas Kelompok
1.      Pertemuan pertama
w  Guru                : Fithra Runisya
w  Observer          : Anggita Windy
2.      Pertemuan kedua
w  Guru                : Tota Fierda
w  Co Teacher-1   : Permata Putri
w  Co Teacher-2   : Anggita Windy
w  Observer          : Fithra Runisya
3.      Pertemuan ketiga
w  Guru                : Permata Putri
w  Co Teacher-1   : Fithra Runisya
w  Co Teacher-2   : Anggita Windy
w  Observer          : Tota Fierda

c.       Alat Bantu yang Digunakan
1.      Spidol, papan tulis dan penghapus
2.      Kertas origami
3.      Poster huruf
4.      Kerincingan
5.      Alat tulis untuk Observasi (Pulpen dan buku catatan)

BAB III
PROSES PEMBELAJARAN
a.      Skenario

1.      Pertemuan Pertama
Membuka kelas dengan menyapa dan mengucapkan selamat pagi kemudian memperkenalkan diri kepada peserta didik. Selanjutnya bertanya kepada beberapa peserta didik sarapan apa pagi ini. Dilanjutkan dengan mengajak peserta didik untuk berdoa secara bersama-sama sesuai doa yang telah diajarkan oleh gurunya. Kemudian bernyanyi sambil memainkan kerincingan. Memulai pelajaran yang diawali dengan memperkenalkan huruf-huruf yang ada di papan tulis kemudian membagikan LKS kepada peserta didik dan menyuruh mereka untuk menulis ulang huruf-huruf yang membentuk sebuah kalimat dibawah kalimat pada kotak kosong yang telah disedikan. Setelah selesai dilanjutkan dengan mewarnai gambar yang ada pada LKS dan diakhir pertemuan memberikan cokelat kepada seluruh peserta didik sebelum meninggalkan ruangan kelas karena peserta didik akan beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan.

2.      Pertemuan Kedua
Membuka kelas dengan menyapa dan mengucapkan selamat pagi kemudian memperkenalkan diri kepada peserta didik. Selanjutnya bertanya kepada beberapa peserta didik sarapan apa pagi ini. Dilanjutkan dengan mengajak peserta didik untuk berdoa secara bersama-sama sesuai doa yang telah diajarkan oleh gurunya. Kemudian bernyanyi sambil memainkan kerincingan. Memulai pelajaran yang diawali dengan menggulang secara singkat pelajaran di hari sebelumnya sambil menunjuk huruf-huruf yang ada di papan tulis. Kemudian membagikan LKS kepada peserta didik dan menyuruh mereka untuk membaca huruf-huruf yang membentuk sebuah kata. Dilanjutkan dengan menyuruh beberapa dari peserta didik maju kedepan kelas untuk membaca kata-kata yang ada di LKS. Setelah selesai dilanjutkan dengan menggambar bebas pada kertas LKS yang telah disediakan. Diakhir pertemuan memberikan wafer cokelat kepada seluruh peserta didik sebelum meninggalkan ruangan kelas karena peserta didik akan beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan.

3.      Pertemuan Ketiga
Membuka kelas dengan menyapa dan mengucapkan selamat pagi. Selanjutnya bertanya kepada beberapa peserta didik sarapan apa pagi ini. Dilanjutkan dengan mengajak peserta didik untuk berdoa secara bersama-sama sesuai doa yang telah diajarkan oleh gurunya. Kemudian bernyanyi sambil memainkan kerincingan. Memulai pelajaran yang diawali memperkenalkan angka-angka dengan menuliskan angka 1-10 di papan tulis. Kemudian membagikan LKS kepada peserta didik dan menyuruh mereka untuk menghitung berapa banyak jumlah gambar yang ada pada LKS dan kemundian dituliskan pada LKS berapa banyak jumlahnya. Dilanjutkan dengan menyuruh beberapa dari peserta didik untuk membacakan berapa jumlah gambar dan jumlah dari gambar-gambar yang telah dijumlahkan. Kemudian mengajak dan mengajarkan peserta didik untuk membuat sebuah karya dari kertas origami berupa bentuk kapal laut, burung bangau, dan topi perawat. Diakhir pertemuan memberikan permen dan kenang-kenangan berupa penghapus kepada seluruh peserta didik. Sebelum meninggalkan ruangan menggucapkan kata-kata perpisahan dan terima kasih kepada seluruh peserta didik.

b.      Objek Observasi

1.      Komunikasi
w  Pertemuan Pertama
Saat memulai pertemuan di dalam kelas, Arum yang berperan sebagai guru mengawali kelas dengan mengucapkan “ selamat pagi adik-adik” dan peserta didik menjawab dengan bersemangat juga “selamat pagi kakak”. kemudian Arum bertanya, “masih ingat gak sama kakak, yang kemarin datang” kemudian peserta didik menjawab “ingat kak, kakak anak FKG itu kan”, menjawab dengan tersenyum, dan ada juga yang menjawab “iya kak, kenal”, ada juga yang menjawab “enggak, kenal kakak”. kemudian Arum memperkenalkan dirinya dan memperkenalkan Anggita juga yang berperan sebagai observer. Kemudian Arum bertanya “karena kakak baru pertama kali datang ke sini, kakak mau dong kenal sama kalian, coba perkenalkan namanya siapa ya, mulai dari kelompok 1-4 (meja pertama-meja keempat) ya adik-adik”. Seluruh peserta didik memperkenalkan dirinya. Kemudian Arum bertanya lagi “apakah adik-adik udah sarapan ? ayo tunjuk tangan ?” lalu beberapa siswa tunjuk tanggan dan Arum bertanya pada beberapa siswa yang tunjuk tangan “Sarapan apa hari ini dek?”, “sarapan telur dan susu kak” menjawab dengan suara yang kuat.
Pertemuan kedua adalah topik mengenal huruf dan mewarnai. Arum memulai pelajaran yang diawali memperkenalkan huruf dari A-Z yang sudah ada di depan kelas. Sambil melihat peserta didik Arum mengajak untuk bersama-sama membaca huruf, “sekarang mari kita baca ya adik-adik, huruf yang ada di papan tulis.” Arum menunjuk huruf secara berurutan dari huruf A-Z dengan memegang spidol untuk menunjukkan huruf A-Z tersebut. Kemudian setelah seluruh peserta didik bisa membaca huruf yang ditanya oleh arum, lalu Arum dan Anggita membagikan LKS pada peserta didik. Kemudian Arum kembali ke depan kelas untuk menjelaskan, tugas yang mau dikerjakan oleh peserta didik, sedangkan Anggita berdiri di belakang untuk melanjutkan observasi.
Arum yang posisinya berada di depan papan tulis menyuruh peserta didik untuk menebal kalimat yang berisi huruf yang putus-putus. Kemudian setelah selesai menebalkan, menyuruh peserta didik untuk mewarnai gambar yang ada di LKS yang ada gambar seorang cewek sedang menulis, “Adik-adik udah dapat kertas LKS dari kak Arum dan kak Anggi kan, sekarang kakak mau jelasin, adik-adik lihat huruf putus-putus yang ada di hadapan adik-adik, huruf putus-putus itu ada di bawah gambar seorang cewek yang sedang menulis, apakah adik-adik melihat hurufnya?. Peserta didik menjawab sambil melihat kertas yang ada di hadapannya. “iya kak”, “lihat kak”. Kita lanjut ya, adik-adik ambil pertengkapan tulisnya lalu menebalkan huruf putus-putus tersebut sampai selesai ya, kalau tidak mengerti nanti bisa tanya kakak, mulai di kerjain ya”. kemudian peserta didik menjawab “iya kak” sambil menebalkan huruf-huruf, beberapa menit kemudian. Kelompok satu (meja pertama) mereka bertanya “kak, gini ya tulisannya”, ada juga yang bertanya “gimana nulisnya kak”, dan ada yang bertanya lagi “ga ngerti kak”. Kemudian Arum, mendatangi beberapa peserta didik yang bertanya, memegang tangan siswa, menulis lembar di LKS siswa, dan melihat mata siswa sambil tersenyum dan beberapa kali Arum mengatakan pada siswa “nah, itu pinter nebalin tulisannya”. Setelah Arum menjelaskan, beberapa siswa tersenyum dan ada yang hanya diam saja kemudian melanjutkan tulisannya. Setelah selesai menebalkan, Arum menyuruh peserta didik untuk mewarnai gambar, “adik-adik udah pada selesaikan menebalkan hurufnya kan, sekarang adik-adik ambil pensil warnanya ya, kita mulai mewarnai gambar”. Seluruh peserta didik mengambil pensil warnanya masing-masing yang berada di loker.
Pada akhir pertemuan, Arum dan Anggi mengucapkan salam penutup bahwa kelas telah berakhir dan memberikan coklat pada seluruh peserta didik. “Adik-adik sudah selesai ya belajarnya hari ini, nanti di rumah belajar nulis lagi ya.. biar makin pinter, kak Arum dan kak Anggi hari ini sudah selesai mengajarnya, besok kakak mau datang lagi ya... nah, kakak mau bagiin cokelat sama adik-adik, siapa yang mau cokelat ?”. Kemudian, peserta didik bersama-sama mengucapkan terima kasih.

w  Pertemuan Kedua
Pertemuan kedua, yang menjadi guru adalah tota. Peserta didik duduk dibangkunya masing-masing. Tota membuka kelas dengan mengucapkan selamat pagi dan menanyakan kabar adik-adik. Lalu, Tota memperkenakan dirinya dan meminta adik-adik memperkenalkan diri mereka. Tota juga menanyakan kepada adik-adik apakah sudah sarapan apa belum. Tota juga menanyakan apakah adik-adik sudah belajar dirumah apa belum. 
Sebelum memulai pelajaran, tota mengajak adik-adik untuk berdoa, peserta didik mengangkat tangan mereka untuk berdoa. Doa sesuai dengan yang diajarkan oleh guru mereka. Setelah itu tota berkata kepada adik-adik “sudah selesai doa, kita bernyanyi bersama ya?”. Tota mengambil kerincingan dan memukulnya ketangan membentuk irama. Kelas terdengar berisi suara adik-adik dan kami semua ikut bernyayi.
Materi pada pertemuan kedua adalah membaca dan menggambar. Tota memulai pelajaran dengan mengulang pelajaran pada hari pertama. Mengajak adik-adik membaca huruf huruf yang ada dipapan tulis. Tota melihat adik-adik sambil berkata “sekarang mari kita baca huruf yang ada di papan tulis.” Tota menunjuk huruf secara berurutan dari A-Z. Kemudia adik-adik mulai membaca huruf-huruf tersebut. Setelah mengulang pelajaran hari pertama, co-teacher (Putri dan Anggita) mendatangi meja-meja sambil membagikan LKS kepada adik-adik. LKS berisikan kumpulan huruf yang membentuk kata-kata pendek. Setelah LKS dibagikan Tota mengajak adik-adik membaca huruf yang ada di LKS. Adik-adik yang duduk dimeja bagian paling belakang membaca dengan suara lantang. Adik-adik dibagian depan, ada yang ikut membaca dan ada yang tidak ikut membaca. Co-teacher mendatangin meja adik-adik satu persatu untuk membantu adik-adik membaca huruf-huruf yang ada di LKS.
Tota meminta salah satu peserta didik untuk membaca didepan kelas, salah satu peserta didik berdiri dan berjalan kedepan kelas untuk membaca huruf yang ada di LKS. Setelah selesai tota berkata “wah sudah pintar-pintar ya adik-adik semua” ayo kita tepuk tangan untuk kita semua. Semua adik-adik bertepuk tangan dan ada yang tertawa.
Setelah selesai membaca LKS, kelas dipotong dengan istirahat. Setelah istirahat kelas dilanjutkan kembali. Tota meminta adik-adik untuk menggambar bebas, dan kemudian mewarnainya. Setelah selesai semua, kelas diakhiri dengan memberikan snack berupa wafer kepada adik-adik. Sebelum meninggalkan ruangan Tota menggucapkan terima kasih kepada seluruh peserta didik dan menghimbau adik-adik untuk selalu belajar dirumah agar menjadi anak yang pintar dan kelas diakhiri dengan ucapan selamat pagi oleh tota dan kemudian dijawab oleh semua peserta didik.

w  Pertemuan Ketiga
Saat memulai pertemuan di dalam kelas, Putri yang mengambil peran menjadi guru mengucapkan selamat pagi, menyapa “apa kabar hari ini?”, dan menanyakan “adik-adik udah pada sarapan belum? sarapan apa hari ini?” kepada peserta didik yang sudah duduk rapi sesuai di tempatnya masing-masing. Mengucapkan salam serta menyapa sambil tersenyum dan mengerakkan tangannya serta melihat seluruh peserta didik. Putri juga secara khusus menyapa dua orang peserta didik yang bernama Evan dan Yaya dengan mendatangi meja mereka dan sedikit menunduk untuk memegang pundaknya sambil tersenyum serta menanyakan “Evan dan Yaya tadi sarapan apa? minum susu juga kan?”.
Setelah menyapa dilanjutkan dengan berdoa, Putri memimpin Doa sesuai dengan Doa yang telah diajarkan oleh para guru “sebelum kita memulai pelajaran hari ini, mari kita bersama-sama berdoa ya adik-adik. Doa dimulai”. Selesai berdoa dilanjutkan bernyanyi. Putri mengambil kerincingan yang ada di dalam lemari buku dan mulai mengajak peserta didik bernyanyi, “adik-adik sebelum belajar kita nyanyi dulu ya”. Memegang kerincingan dengan tangan sebelah kanan dan mulai memainkannya. Sambil tersenyum dan ikut bernyanyi Putri menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan. Memainkan kerincing dengan cara mengerakkan kerincing dan memukul-mukulkannya ke telapak sebelah kiri, namun sesekali kerincingan dibunyikan dengan menggerak-gerakkannya keatas dan kebawah.
Pertemuan ketiga adalah topik berhitung. Putri memulai pelajaran yang diawali memperkenalkan angka-angka dengan menuliskan angka 1-10 di papan tulis. Sambil melihat peserta didik Putri mengajak untuk bersama-sama membaca angka, “sekarang mari kita baca ya adik-adik angka yang ada di papan tulis.” Putri menunjuk angka secara berurutan dari angka satu (1) sampai sepuluh (10) dengan menggunakan jari telunjuk tangan sebelah kanan. Kemudian co-teacher (Fithra dan Anggita) mendatangi meja-meja sambil membagikan LKS kepada peserta didik. Putri yang posisinya berada di depan papan tulis menyuruh peserta didik untuk menghitung berapa banyak jumlah gambar yang ada pada LKS dan kemundian dituliskan pada LKS berapa banyak jumlahnya. “nah, adik-adik udah dapat kertas LKS dari kak Arum dan kak Anggi kan, sekarang kita belajar berhitung ya,”. Putri memberikan contoh dengan menuliskannya di papan tulis, “contohnya, 2 + 3 = berapa adik-adik? Mari sama-sama kita hitung ya”. Putri menghadap keseluruh peserta didik sambil menggunakan jari tengah dan telunjuk tangan sebelah kanan untuk angka 2 dan jari telunjuk, tengah dan manis untuk angka 3. Seluruh peserta didik mulai menghitung sambil melihat jari-jari Putri, “satu, dua, tiga, empat, lima, berarti 2 + 3 = lima, adik-adik semuanya pada pintar”. Kemudian menyuruh peserta didik untuk mengerjakan hitungan yang ada di LKS, “sekarang adik-adik kerjakan yang ada di LKSnya ya”. Putri, Fithra dan Anggita masing-masing mendampingi satu kelompok peserta didik sambil membantu dan mengajari berhitung.
Setelah peserta didik selesai mengerjakan, dilanjutkan dengan Putri menyuruh beberapa dari peserta didik untuk membacakan jumlah dari gambar-gambar yang telah dijumlahkan pada LKS. “sudah pada selesaikan, ayo sekarang siapa yang mau membacakan jumlah dari gambar-gambarnya?”. Peserta didik yang bernama Nanda membacakannya, sambil tersenyum dan tepuk tangan Putri mengucapkan terima kasih kepada Nanda. “wah,,,Nanda pintar, terima kasih Nanda, tepuk tangannya untuk Nanda ya adik-adik”.
Kemudian Putri mengajak dan mengajarkan peserta didik untuk membuat sebuah karya dari kertas origami berupa bentuk kapal laut, burung bangau, dan topi perawat, “sekarang kita bermain ya adik-adik, melipat kertas origami”. Fithra dan Anggita membagikan kertas origami kepada peserta didik dan duduk bersama mereka sambil mengajarkan mereka cara melipatkan kertas origami.
Diakhir pertemuan Fithra dan Anggita memberikan permen dan kenang-kenangan berupa penghapus kepada seluruh peserta didik. Sebelum meninggalkan ruangan Putri menggucapkan kata-kata perpisahan dan terima kasih kepada seluruh peserta didik. “Adik-adik, kakak, kak Arum, kak Angggi dan kak Tota hari ini sudah selesai mengajarnya. Terima kasih banyak sudah mau belajar dan bermain bersama kami, kapan-kapan kita beajar dan main bersama lagi ya adik-adik. Senang bisa bertemu dengan kalian semua, kalian pintar-pintar dan rajin. Selamat pagi dan selamat beristirahat ya adik-adik”.

2.      Respon Audience
w  Pertemuan Pertama
Saat Arum membuka kelas dengan mengucapkan selamat pagi, menanyakan kabar hari ini, sudah sarapan atau belum, semua peserta didik menjawab dengan suara yang kuat dengan jawaban berbeda-beda, namun ada juga beberapa peserta didik hanya diam saja saat ditanya. Kemudian saat Arum mengajak peserta didik bernyanyi, semua peserta didik bernyanyi dengan sangat bersemangat, ada yang bernyanyi sambil bertepuk tangan, ada juga yang bernyanyi sambil melipat tangan, ada yang bernyanyi sambil tertawa, ada juga beberapa peserta didik melirik ke kanan dan ke kiri melihat temannya sambil bernyanyi. Peserta didik menyanyikan lagu dari awal sampai akhir dengan suara yang kuat dan ada juga yang pelan. Setelah bernyanyi, Arum mengajak peserta didik untuk berdoa bersama, semua peserta didik bisa mengucapkan doa yang telah diajarkan oleh guru-gurunya sebelumnya dengan pengucapan yang jelas
Saat Arum memulai pelajaran dengan memberikan pertanyaan dengan menunjukkan bentuk huruf yang ada di atas papan tulis, hampir seluruh peserta didik dapat menjawab, ada juga yang menunjuk tangan “saya kak mau jawab”, namun ada juga peserta didik yang hanya diam saja saat ditanya. Karena hampir semua peserta didik menjawab kemudian Arum memberikan LKS yang berisi bentuk-bentuk huruf yang mirip dan mengarahkan peserta didik untuk menuliskan huruf yang ada di LKS, dengan menunjukkan kertas LKS yang mau di tulis oleh peserta didik. Beberapa peserta didik bertanya kepada Arum “ini gimana kak”, ada juga yang bertanya “ini udah benar kak”. Setelah itu, Arum menjelaskan kepada beberapa peserta didik yang bertanya dengan cara mendekatinya, menulis di kertas LKS peserta didik tersebut, dengan membusungkan badannya dan sekali-kali Arum duduk di sebelah peserta didik. Setelah itu, peserta didik kembali menulis dan beberapa menit kemudian peserta didik bertanya lagi pada guru untuk melihat hasil tulisannya “Bu, ini udah “ , “saya sudah siap, Bu”. Kemudian saat Arum menyuruh untuk mewarnai gambar yang ada di LKS, peserta didik langsung mengambil perlengkapan pensil warna yang ada di loker mereka masing-masing. Saat proses mewarnai, seluruh peserta didik bersemangat untuk mengerjakannya dan sekali-kali peserta didik bertanya “cantik, Bu?” , ada juga yang mengatakan “ini gambar saya udah selesai, Bu”.
Secara keseluruhan, seluruh respon peserta didik saat pertemuan pertama ini sangat bersemangat dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dan peserta didik juga aktif dalam kelas untuk bertanya hal yang belum dimengerti peserta didik.

w  Pertemuan Kedua
Ketika Tota membuka kelas dengan ucapan selamat pagi dan menanyakan kabar adik adik, semua peserta didik menjawab dengan suara keras. Ada peserta didik yang menjawab “saya lagi sakit kak” dan ada yang menjawab “baik kak”. Ketika Tota mengajak adik adik berdoa, semua adik-adik langsung mengangkat tangan mereka untuk berdoa. Setelah itu Tota mengajak adik-adik bernyanyi, adik-adik dengan senangnya bernyanyi sambil bertepuk tangan dan tersenyum.
Ketika memulai pelajaran, ada adik yang tidak membaca huruf-huruf, dan ada adik yang dengan semangatnya membaca apa yang diperintahkan oleh tota. Adik yang duduk dibagian belakang paling antusias membaca. Sedangkan adik-adik yang duduk dibagian depan ada yang tidak membaca dan ada yang menidurkan kepalanya diatas meja. Adik yang duduk dibagian samping kanan, bercerita sambil sesekali ikut membaca. Setelah pelajaran membaca adik-adik diminta untuk menggambar bebas dan kemudian mewarnainya. Saat menggambar semua adik-adik terlihat sangat antusias dan salah satu anak berkata “saya mau menggambar rumah dan gambar ayah mama kak” diikuti oleh peserta didik lainnya yang berkata “aku mau gambar gunung dan sawah kak”. Semua adik-adik menggambar dengan antusias dan sesekali melihat punya teman satu sama lain dan saling bercanda.
Secara keselurahan respon adik-adik sangat baik walaupun mungkin ada beberapa anak yang tidak terlalu antusias dan malas-malasan. Tetapi proses belajar berjalan dengan baik.

w  Pertemuan Ketiga
Saat Putri memulai kelas dengan mengucapkan selamat pagi, menanyakan kabar hari ini, sudah sarapan atau belum, semua peserta didik menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda. Mereka menjawab dengan semangat sambil tersenyum dan ada beberapa yang menjawab sambil tertawa dengan suara yang kuat. Ketika Putri bertanya kepada Ivan dan Yaya, mereka berdua menjawabnya dengan cepat dan sambil tersenyum, “sarapan kak, minum susu juga”.
Saat Putri mengajak bernyanyi, semua peserta didik diawal nyanyi sangat bersemangat bernyanyi sambil bertepuk tangan. Menyanyikan lagunya dari awal sampai akhir dengan suara yang bervariasi, ada yang kuat dan ada juga yang pelan. Namun, saat sudah ditengah-tengah nyanyian beberapa peserta didik ada yang melipat tangan di atas meja sambil bernyanyi dan melihat Putri yang sedang bernyanyi di depan kelas, ada juga beberapa peserta didik melirik ke kanan dan ke kiri melihat temannya sambil bernyanyi. Ketika berdoa, semua peserta didik bisa mengucapkan Doa yang telah diajarkan oleh guru-gurunya dengan pengucapan dan suara yang jelas.
Saat memulai pelajaran dengan menunjukkan bentuk-bentuk angka yang ada di papan tulis, hampir seluruh peserta didik secara serentak dan langsung dapat menjawab,  namun ada sekitar 2 atau 3 orang dari peserta didik yang terlihat tidak langsung menjawab tetapi tetap menjawabnya setelah teman-temannya menjawab dengan serentak. Kemudian saat co-teacher (Fithra dan Anggita) memberikan LKS yang berisi gambar-gambar, peserta didik duduk dan bersemangat menerimanya tetapi ada beberapa peserta didik yang sambil berdiri menunggu gilirannya untuk mendapkan LKS, “saya kak, saya mau kak, saya belum dapat kak”. Selanjutnya seluruh peserta didik bersama-sama menuju loker mereka masing-masing untuk mengambil kotak pensil, dan ada juga beberapa peserta didik yang tidak hanya mendatangi lokernya namun sambil melihat-lihat loker temannya. Ketika mulai mengerjakan hitungan yang ada pada LKS, ada beberapa peserta didik yang serius duduk mengerjakan, berjalan dan menuju ke meja kelompok lain, berbicara dengan teman yang ada disebalah kana tau kirinya dan bahkan ada yang menuju meja guru untuk mengambl penghapus, pensil dan rautan yang terletak pada sebuah kotak di atas meja guru.
Hampir seluruh peserta didik bertanya kepada Putri, Arum, dan Anggi untuk menjelaskan bagaimana cara menghitung gambarnya, “kak, kak, kalau yang ini ditambah ini kayakmana kak?”; “kak, ajari yang inilah kak”; “kak, ini benar atau salah kak?”. Semua peserta didik berganti-gantian bertanya kepada Putri, Arum, dan Anggi untuk menanyakan apakah yang mereka kerjakan sudah benar atau salah, apakah tulisan angka mereka benar atau salah, bahkan bertanya bagimana cara menuliskan bentuk angka yang sulit mereka buat. “kak, kak,,,kayakmana nulis angka 3?”; “kak, ini udah benar kak?”: “ini angka 7 kan kak?”. Peserta didik juga saling membantu satu dengan yang lainnya saat ada temannya yang bertanya ataupun meminjam penghapus. 
Saat Putri meminta peserta didik untuk membacakan jumlah dari gambar-gambar yang telah dijumlahkan pada LKS, Nanda dengan cepat dan spontan langsung mengacungkan tangannya sambil tersenyum dan mengatakan, “saya kak, saya kak, saya mau”. Kemudian beberapa dari peserta didik juga mulai ikut mengacungkan tangannya, “saya kak,”; “saya mau kak”; “saya bisa kak”; sayalah kak, saya kak”. Setelah Nanda selesai membacakannya, seluruh peserta didik secara bersama-sama memberikan tepuk tangan sambil tersenyum dan ada beberpa peserta didik bertepuk tangan sambil mengatakan “yee…”.
Kemudian waktu melipat kertas origami, seluruh peserta didik sangat senang dan ada beberapa yang bersorak kegirangan “hore,,,,main origami, aku mau kak, aku mau kak…”. Peserta didik sudah tidak duduk di meja berdasarkan kelompok seperti saat belajar, mereka duduk dimana meja yang mereka suka. Saat kertas origami dibagikan, ada beberapa peserta didik yang meminta warna tertentu dan memilih warna kertas origaminya, “kak, aku mau yang warna cokelat lah kak,”; “kak, aku mau warna pink,”; “kakm aku nggak mau yang ini, aku mau warna kuning aja kak”. Melipatkan kertas origami membuat mereka sangat antusias untuk sama-sama belajar dan bertanya, “oh, jadi gitu melipatnya ya kak,,,”; “kalau udah gini, kayakmana lagi melipatnya kak?; “ajarilah kak melipatnya yang ini,”; “kak, kak, punyaku udah betul kak?”; “punyaku bagus kak?”; “kayakgini kak?”.
Secara keseluruhan, seluruh peserta didik memiliki antusias dan minat yang baik untuk belajar berhitung dan bermain kertas origami yang dibuat oleh kelompok pada pertemuan ketiga. 

BAB IV
EVALUASI
Pada saat proses pembelajaran dengan metode pendekatan paedagogi kelompok menyampaikan informasi , pengetahuan kepada subjek didik demi mencapai tujuan yang dikehendaki. Dimana kelompok sudah merencanakan materi yang akan diajarkan terlebih dahulu sebelum terjun ke lapangan dengan melihat kondisi anak, dan kelompok menyesuaikan jadwal pertemuan dengan pihak TK. Meskipun ada sedikit kendala yang dihadapi oleh kelompok, namun kelompok dapat mengatasinya dan menyelesaikan proses mengajar.
Dalam mengajar, kelompok mencoba menjadi komunikator yang unggul dalam berkomunikasi pada anak, menguasai bahan sebelum mengajar dan mencoba menjadi mentor yang berpusat pada anak. Dimana dalam buku Paedagogi, andragogi, dan Heutagogi(Prof. Dr. Sudarwan Danim) disebutkan bahwa guru yang unggul memiliki karekteristik seperti keahlian pokok tentang materi pelajaran secara menyeluruh dan menguasai materi, komunikator yang unggul yang menunjukkan kemampuan berkomunikasi, mentor yang berpusat pada siswa dimana menjadikan siswa sebagai prioritas dan berusaha merangsang stiap siswa belajara melalui metode dan menjadikan siswa aktif.
Selanjutnya, dalam mengajar dan mendidik anak, kelompok mencoba menjadi pribadi yang ideal dalam mengajar  yang mempunyai karakter kesatria, jujur, disiplin, penyayang, antusias, motif bagus, komitmen yang sesuai pada pengajar yang cerdas. Kelompok mencoba datang lebih awal dari anak-anak dan berusaha untuk tidak telat. Kelompok juga menunjukkan rasa sayang dan peduli terhadap anak dan menampilkan keceriaan serta semangat dalam menyampaikan materi.
Disimpulkan bahwa kelompok telah berhasil dalam menyelesaikan tugas proses pembelajaran dengan metode pendekatan pedagogi. Disini kelompok telah mencoba melaksanakan prinsip- prinsip pembelajaran pedagogi dengan mencoba menjadi pedagogis dan kelompok telah berhasil melaksanakannya. Dalam pelaksanaan mengajar kelompok melakukan pendekatan pedagogi modern yaitu pengajaran (teaching) yang dilakukan dengan mentransformasikan pengetahuan, mengawasi dan memfasilitasi pengembangan siswa. Dengan adanya tugas ini kelompok mendapatkan pembelajaran yang penting bahwa menjadi seorang pendidik ataupun menjadi seorang pedagogis itu tidak mudah, banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi, kelompok dituntut untuk lebih sabar dalam mengajar anak. Kelompok juga harus dapat memahami keinginan anak dan menjalin hubungan yang baik dengan anak agar proses pembelajaran tetap berjalan dengan lancar. Dan tugas lapangan memberikan pengalaman serta pembelajaran yang sangat berarti bagi kelompok.

DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. 2010. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung : Alfabeta

LAMPIRAN
a.      Pengeluaran
1. Print dan Fotocopy LKS
·               Pertemuan pertama                                : Rp   2.500
·               Pertemuan kedua                                   : Rp   2.500
         Pertemuan ketiga                                   : Rp   2.500
      2. Snack
          Pertemuan pertama (cokelat)                : Rp 15.000
          Pertemuan kedua (wafer cokelat)          : Rp 15.000
·                Pertemuan ketiga (permen)                   : Rp   8.000
      3. Kertas Origami                                     : Rp   5.000
4.  Kenang-kenangan (penghapus)             : Rp 28.000
Jumlah Pengeluaran                        : Rp 78.500


b.      Dokumentasi